HOME  |   IKLAN BARIS  |   BERITA PROPERTI  |   TIPS PROPERTI  |   SIMULASI KPR  |   BUKU TAMU  |   PASANG IKLAN     
CIMB NIAGA Bukit Semarang Baru

Berita Properti

28/12/2008 08:12
Penyerapan Subsidi Perumahan Tergantung KPR

SUBSIDI ke sektor perumahan membutuhkan kredit pendamping dari perbankan agar penye-i rapannya optimal.Demikian diungkapkan Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) M Yusuf Asyari pada diskusi dengan pebisnis perumahan di Jakarta, pekan lalu.Menurutnya, anggaran subsidi ke sektor perumahan pada 2009 dialokasikan sebesar Rp2,5 triliun.Subsidi itu, kata Yusuf, akan terserap dengan optimal jika ada kredit pendamping sekitar Rpl3 triliun. Kredit pendamping yang dimaksud adalah kredit pemilik-an rumah (KPR) bersubsidi yang disalurkan perbankan.

"Penyerapan subsidi tahun depan akan sangat tergantung dari seberapa besar kemampuan perbankan mengucurkan KPR bersubsidi," kata M Yusuf.Selama ini, pemerintah mengandalkan Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai penyalur KPR bersubsidi paling besar. Bank lain termasuk bank BUMN maupun Bank Pembangunan Daerah (BPD) masih enggan masuk dengan dalih tidak memiliki kemampuan dan ahli untuk melayani pasar itu.Sejauh ini, BTN telah berkomit-men akan menyalurkan KPR bersubsidi sedikitnya Rp5 triliun. Di samping itu, ada potensi tambahan dari dana Bapertarum-PNS dan jamsostek yang ditempatkan di BTN masing-masing sebesar Rp2 triliun dan Rpl triliun.

Tapi itu pun masih kurang. Maka itu, kami akan terus mendorong bank-bank di luar BTN untuk meningkatkan alokasi dan konsentrasi mereka dalam penyaluran KPR bersubsidi," imbuhnya.Sementara itu, Direktur Utama BTN Iqbal Latanro mengatakan pertumbuhan kredit yang disalurkan pada 2009 diperkirakan akanlebih rendah jika dibandingkan dengan 2008. Kondisi krisis global yang menghantam daya beli masyarakat ikut menjadi faktor penurunan itu.Di tempat terpisah, pengamat properti Panangian Simanungkalit optimistis sektor properti masih menjanjikan keuntungan. Meski pasokan dari pengembang terbatas, permintaan properti di Indonesia tetap tinggi.

"Nilai aset properti di sini selalu meningkat, terus naik, berbeda dengan negara lain," ujarnya dalam Seminar Danger or Opportunity di Kemang Village.

(Slv/E-4)-Media Indonesia


(BTN)

sumber: http://www.btn.co,id